> For the complete documentation index, see [llms.txt](https://proyekdekolonial.gitbook.io/docs/llms.txt). Markdown versions of documentation pages are available by appending `.md` to page URLs; this page is available as [Markdown](https://proyekdekolonial.gitbook.io/docs/arsip/kenal-lebih-jauh/catatan-bahasa-a-note-on-language.md).

# Catatan Bahasa / A Note on Language

Kamu mungkin memperhatikan sesuatu yang aneh di sini.

Dokumen ini tidak memilih. Ia berpindah, antara Bahasa Indonesia dan English, kadang dalam satu napas, kadang dalam satu kalimat. Tidak ada terjemahan yang rapi. Tidak ada versi "resmi" yang satu lebih benar dari yang lain.

Ini bukan kecelakaan editorial. Ini adalah posisi.

<sub>You probably noticed something strange here. This document doesn't choose. It moves, between Bahasa Indonesia and English, sometimes in one breath, sometimes in one sentence. No clean translation. No "official" version where one is more correct than the other. This is not an editorial accident. This is a position.</sub>

### Kenapa Campur? / Why Mix?

**Pertama: karena ini adalah kondisi kita yang sebenarnya.**

Banyak dari kita yang berpikir dalam dua bahasa, atau tiga, atau lebih, tergantung konteks, tergantung siapa yang ada di ruangan, tergantung apakah kita sedang marah atau sedang menulis proposal atau sedang berbicara dengan ibu. Bahasa yang "bersih" \<murni Indonesia, murni English> adalah fiksi. Ia adalah konstruksi. Ia adalah proyek nasionalis yang memutuskan bahwa ada satu bahasa yang benar untuk satu bangsa yang benar.

Kami menolak fiksi itu.

<sub>**First: because this is our actual condition.**</sub>

<sub>Many of us think in two languages, or three, or more, depending on context, depending on who's in the room, depending on whether we're angry or writing a proposal or talking to our mother. "Clean" language \<pure Indonesian, pure English> is a fiction. It is a construction. It is the nationalist project deciding there is one correct language for one correct nation.</sub>

<sub>We refuse that fiction.</sub>

**Kedua: karena English adalah bahasa kolonial yang belum selesai kita urus.**

English memberi jangkauan. Ia memungkinkan teks ini dibaca di luar Indonesia, masuk ke percakapan global tentang dekolonisasi, menjangkau diaspora, menjangkau orang-orang yang sedang melakukan pekerjaan yang sama di tempat lain.

Tapi English juga adalah bahasa yang mengatur siapa yang terdengar serius di ruangan akademis global. Siapa yang "layak dikutip." Siapa yang dianggap menghasilkan pengetahuan dan siapa yang dianggap menghasilkan "kasus studi." Menulis hanya dalam English \<tanpa Bahasa Indonesia yang hadir, mengganggu, menolak untuk sekadar menjadi terjemahan> adalah menyerahkan diri pada hierarki itu.

Jadi kami tidak memilih salah satu. Kami memaksa keduanya untuk duduk bersama dan tidak nyaman.

<sub>**Second: because English is a colonial language we haven't finished reckoning with.**</sub>

<sub>English gives reach. It allows this text to be read outside Indonesia, to enter global conversations about decolonization, to reach diaspora, to reach people doing the same work elsewhere.</sub>

<sub>But English is also the language that decides who sounds serious in global academic rooms. Who is "worth citing." Who is considered to produce knowledge and who is considered to produce "case studies." Writing only in English \<without Bahasa Indonesia present, interrupting, refusing to be merely a translation> is to surrender to that hierarchy.</sub>

<sub>So we don't choose. We force both to sit together and be uncomfortable.</sub>

**Ketiga: karena "terjemahan yang baik" adalah juga sebuah bentuk kekuasaan.**

Terjemahan yang rapi, saat satu bahasa dengan sopan menunggu yang lain selesai bicara, menyembunyikan gesekan. Ia membuat dua bahasa tampak setara, bisa dipertukarkan, sama-sama nyaman. Tapi mereka tidak. English membawa institusi, pendanaan, jaringan penerbitan, konferensi internasional. Bahasa Indonesia membawa sejarah yang berbeda, pertaruhan yang berbeda, pendengar yang berbeda.

Ketika keduanya ada di halaman yang sama, dalam format yang sama, tanpa yang satu lebih "utama" dari yang lain, itu adalah pernyataan tentang siapa yang kami tulis, dan mengapa hierarki itu harus diinterupsi, bukan hanya diakui.

<sub>**Third: because "clean translation" is also a form of power.**</sub>

<sub>A neat translation, where one language politely waits for the other to finish, hides the friction. It makes two languages appear equal, interchangeable, equally comfortable. But they are not. English carries institutions, funding, publishing networks, international conferences. Bahasa Indonesia carries different histories, different stakes, different audiences.</sub>

<sub>When both are on the same page, in the same format, without one being more "primary" than the other, that is a statement about who we are writing for, and why the hierarchy needs to be interrupted, not just acknowledged.</sub>

**Keempat: "aneh" itu sendiri adalah argumen.**

Bahwa teks ini terasa aneh \<campur, tidak rapi, tidak memilih> itu bukan kegagalan. Itu adalah titik. Ia menolak untuk menjadi mudah dikonsumsi dalam satu bahasa saja. Ia menolak untuk berperilaku seperti dokumen yang tahu siapa audiensnya dan menyesuaikan diri dengan nyaman.

Ia meminta pembaca untuk duduk dengan ketidaknyamanan bahasa, yang adalah juga ketidaknyamanan sejarah.

Karena dekolonisasi tidak dimulai dari kenyamanan. Ia dimulai dari gesekan kecil. Dari sesuatu yang tidak pas. Dari momen ketika kamu menyadari bahwa bahasa yang kamu gunakan untuk berpikir tidak sepenuhnya milikmu dan kamu mulai bertanya-tanya, dengan serius, siapa yang memilikinya dan bagaimana caranya kembali.

<sub>**Fourth: the "aneh" itself is the argument.**</sub>

<sub>That this text feels strange \<mixed, unclean, undecided> is not a failure. It is the point. It refuses to be easily consumed in one language alone. It refuses to behave like a document that knows its audience and adjusts comfortably to them.</sub>

<sub>It asks the reader to sit with the discomfort of language, which is also the discomfort of history.</sub>

<sub>Because decolonization does not begin from comfort. It begins from the small friction. From something that doesn't fit. From the moment you realize that the language you use to think is not entirely yours, and you begin to ask, seriously, who owns it and how you might begin to take it back.</sub>


---

# Agent Instructions
This documentation is published with GitBook. GitBook is the documentation platform designed so that both humans and AI agents can read, navigate, and reason over technical content effectively. Learn more at gitbook.com.

## Querying This Documentation
If you need additional information that is not directly available in this page, you can query the documentation dynamically by asking a question.

Perform an HTTP GET request on the current page URL with the `ask` query parameter, and the optional `goal` query parameter:

```
GET https://proyekdekolonial.gitbook.io/docs/arsip/kenal-lebih-jauh/catatan-bahasa-a-note-on-language.md?ask=<question>&goal=<endgoal>
```

`ask` is the immediate question: it should be specific, self-contained, and written in natural language.
`goal` is optional and describes the broader end goal you are ultimately trying to accomplish on behalf of the user. GitBook uses it to tailor the answer towards what is most useful for that goal.

The response will contain a direct answer to the question and relevant excerpts and sources from the documentation.

Use this mechanism when the answer is not explicitly present in the current page, you need clarification or additional context, or you want to retrieve related documentation sections.
