> For the complete documentation index, see [llms.txt](https://proyekdekolonial.gitbook.io/sinema-komunitas/llms.txt). Markdown versions of documentation pages are available by appending `.md` to page URLs; this page is available as [Markdown](https://proyekdekolonial.gitbook.io/sinema-komunitas/arsip/palestine-cinema-days.md).

# Palestine Cinema Days

> <sub>**Fokus:**</sub> <sub></sub><sub>solidaritas anti-kolonial, arsip ingatan, dan hak untuk bercerita. Sinema dipakai sebagai ruang solidaritas untuk mendengar Palestina bukan sebagai isu jauh atau sekadar berita perang, tetapi sebagai pengalaman sejarah, ingatan, kehilangan, perlawanan, dan hak untuk hidup yang terus diperjuangkan.</sub>

#### Sinema, Ingatan, dan Solidaritas Anti-Kolonial

**Tentang Arsip Ini**

Arsip ini mencatat keterlibatan **ProyekDekolonial** dan **Sinema Komunitas** dalam rangkaian **Palestine Cinema Days**, sebuah ruang pemutaran film dan solidaritas yang menggunakan sinema untuk membuka percakapan tentang Palestina, kolonialisme, pengungsian, penghapusan, ingatan, dan hak untuk kembali.

Dalam ekosistem **Sinema Komunitas**, Palestine Cinema Days tidak dipahami hanya sebagai kegiatan pemutaran film. Ia menjadi ruang belajar anti-kolonial: tempat film, penonton, komunitas, arsip, tubuh, emosi, dan percakapan kolektif bertemu untuk membaca pengalaman Palestina secara lebih dekat.

Melalui film, Palestina tidak hanya hadir sebagai berita perang, angka korban, atau isu internasional yang jauh. Palestina hadir sebagai pengalaman manusia yang hidup: tentang rumah, tanah, keluarga, kehilangan, pengepungan, pengungsian, ingatan yang dipertahankan, dan perjuangan untuk tetap bercerita.

**Konteks Awal: Palestina dalam Ekosistem ProyekDekolonial**

Sebelum terlibat dalam **Palestine Cinema Days**, isu Palestina sudah menjadi salah satu simpul penting dalam ekosistem **ProyekDekolonial**.

Sejak awal genosida di Gaza, ProyekDekolonial membaca Palestina bukan hanya sebagai krisis kemanusiaan atau konflik geopolitik, tetapi sebagai bagian dari sejarah panjang kolonialisme pemukim, penghapusan, perampasan tanah, kekerasan negara, dan perjuangan rakyat untuk mempertahankan hidup serta ingatan.

Kolonialisme pemukim di sini dipahami sebagai bentuk kolonialisme yang tidak hanya menguasai wilayah, tetapi juga berusaha mengganti, mengusir, atau menghapus keberadaan penduduk asli dari tanahnya sendiri.

Dalam berbagai praxis awal, ProyekDekolonial mencoba menghubungkan Palestina dengan percakapan gerakan yang lebih luas. Palestina dibaca sebagai isu dekolonial, tetapi juga sebagai isu keadilan iklim, hak atas air, ekstraktivisme, feminisme, kesehatan, disabilitas, arsip, trauma, dan hak komunitas untuk menceritakan dirinya sendiri.

{% columns %}
{% column width="75%" %}
{% embed url="<https://www.instagram.com/p/CzZFDcQJqhJ/?img_index=1>" %}
{% endcolumn %}

{% column width="25%" %}

{% endcolumn %}
{% endcolumns %}

Beberapa materi awal menyoroti bagaimana kolonialisme bekerja bukan hanya melalui perang, tetapi juga melalui kontrol atas tanah, air, sumber daya alam, ruang hidup, arsip, dan tubuh.

Palestina kemudian dibaca sebagai contoh nyata bagaimana kolonialisme pemukim tidak hanya menghancurkan manusia, tetapi juga mengubah lanskap, membatasi akses terhadap air, mengeksploitasi sumber daya, dan menggunakan bahasa “pelestarian” untuk melegitimasi perampasan tanah.

{% columns %}
{% column width="8.333333333333332%" %}

{% endcolumn %}

{% column width="91.66666666666667%" %}
{% embed url="<https://www.instagram.com/p/Czq0C_dSn0p/?img_index=1>" %}
{% endcolumn %}
{% endcolumns %}

Di titik ini, Palestina menjadi penting bagi ProyekDekolonial karena ia memperlihatkan bahwa dekolonisasi tidak bisa dipahami hanya sebagai wacana akademik atau sejarah masa lalu.

Dekolonisasi adalah persoalan yang hidup: tentang siapa yang boleh tinggal, siapa yang dipaksa pergi, siapa yang dianggap manusia, siapa yang boleh mengingat, dan siapa yang diberi hak untuk membayangkan masa depan.

**Tentang Palestine Cinema Days**

**Palestine Cinema Days** adalah festival film tahunan yang digagas oleh **Filmlab Palestine** untuk menghadirkan sinema sebagai ruang ingatan, perlawanan, dan imajinasi kolektif Palestina.

Sejak awal, festival ini menjadi ruang penting bagi sinema Palestina dan sinema dunia lintas genre, format, generasi, dan audiens. Programnya mencakup pemutaran film, lokakarya, diskusi, program anak, kegiatan profesional, serta ruang pertemuan bagi penonton, pembuat film, komunitas, dan pekerja budaya.

Bagi ProyekDekolonial dan Sinema Komunitas, Palestine Cinema Days penting karena sinema dapat menjadi cara untuk melawan penghapusan kolonial. Penghapusan kolonial berarti upaya menghapus bukan hanya tanah dan tubuh, tetapi juga cerita, nama tempat, arsip, bahasa, ingatan, dan hak sebuah komunitas untuk menceritakan dirinya sendiri.

Dalam konteks ini, menonton film Palestina bukan sekadar kegiatan budaya. Ia menjadi tindakan untuk mendengar suara yang sering dibungkam, merawat arsip yang terus diserang, dan membuka ruang solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina untuk hidup, kembali, dan menceritakan dirinya sendiri.

**Dari Festival Menjadi Solidaritas Global**

Edisi ke-10 Palestine Cinema Days pada 2023 awalnya dirancang sebagai perayaan besar sinema Palestina. Namun, beberapa minggu sebelum festival dibuka, genosida di Gaza menghentikan seluruh kegiatan.

Sebagai respons, energi festival dialihkan menjadi ruang solidaritas global. Pada 2 November 2023, jaringan **Aflamuna** meluncurkan **Palestine Cinema Days Around the World**, sebuah gerakan pemutaran lintas negara yang memungkinkan individu, komunitas, kolektif, dan organisasi memutar film-film Palestina di ruang masing-masing.

Pada 2023, tercatat 171 pemutaran di 41 negara. Pada 2024, jaringan ini berkembang menjadi 396 pemutaran di 57 negara.

Melalui kerja solidaritas lintas ruang, Palestine Cinema Days Around the World menjadi tindakan budaya sekaligus politik. Ia menjaga agar cerita-cerita Palestina tetap terlihat, terdengar, dan terus menghidupkan percakapan tentang keadilan, ingatan, pembebasan, dan hak untuk hidup.

Bagi ProyekDekolonial, inilah letak praxis dekolonialnya: sinema digunakan untuk menolak penghapusan, membuka akses terhadap cerita Palestina, dan membangun solidaritas dari bawah.

> Palestine Cinema Days tidak hanya merayakan sinema Palestina. Ia juga mempertahankan hak Palestina untuk hadir, bersuara, mengingat, dan membayangkan pembebasan di tengah upaya sistematis untuk menghapusnya.

**Asal-Usul Keterlibatan**

Keterlibatan **ProyekDekolonial** dalam **Palestine Cinema Days** berangkat dari jejaring dengan **In-Docs**. Melalui jejaring ini, ProyekDekolonial diperkenalkan pada **Palestine Cinema Days Around the World**.

Pada 2024, ProyekDekolonial mulai terlibat sebagai salah satu tuan rumah pemutaran di Indonesia bersama **In-Docs**. Pengalaman ini menjadi titik awal penting untuk membaca Palestine Cinema Days bukan hanya sebagai agenda pemutaran film, tetapi sebagai ruang praxis solidaritas anti-kolonial.

Film menjadi pintu masuk, tetapi kerja yang lebih luas adalah memperluas akses, menghubungkan jejaring, merawat ruang belajar, dan mengajak komunitas lain ikut mengambil peran dalam solidaritas untuk Palestina.

Karena isu Palestina perlu terus dibicarakan di lebih banyak ruang, ProyekDekolonial membuka kemungkinan kerja kolektif dengan komunitas, kolektif, organisasi, kampus, ruang warga, dan jaringan lintas kota.

Bentuknya dapat berupa pemutaran film, diskusi, zine, refleksi bersama, arsip pembelajaran, atau metode lain yang sesuai dengan kapasitas masing-masing ruang.

Dengan cara ini, Palestine Cinema Days dalam ekosistem ProyekDekolonial dipahami sebagai solidaritas yang dapat diperluas: tidak berhenti pada satu acara, satu kota, atau satu kelompok, tetapi tumbuh melalui jejaring yang saling belajar, saling berbagi akses, dan saling menjaga ruang untuk Palestina.

**Praxis Dekolonial**

Praxis dekolonial dalam Palestine Cinema Days terletak pada usaha menggunakan sinema sebagai ruang solidaritas anti-kolonial.

Film tidak hanya diputar sebagai karya untuk diapresiasi. Film dibuka sebagai ruang untuk mendengar kesaksian, merawat ingatan, membaca struktur kekerasan kolonial, dan membangun percakapan komunitas tentang Palestina.

Praxis ini dapat dibaca melalui beberapa lapisan.

<table data-view="cards"><thead><tr><th></th><th></th></tr></thead><tbody><tr><td><strong>Mendengar Palestina dari pengalaman hidup</strong></td><td>Palestina tidak direduksi menjadi berita perang, angka korban, atau isu geopolitik yang jauh. Melalui film, Palestina hadir sebagai rumah, tanah, keluarga, kehilangan, pengungsian, pengepungan, ketahanan, ingatan, dan hak untuk kembali.</td></tr><tr><td><strong>Melawan penghapusan kolonial</strong></td><td>Dalam kolonialisme, yang diserang bukan hanya tanah dan tubuh, tetapi juga cerita, nama tempat, arsip, bahasa, memori, dan hak sebuah komunitas untuk menceritakan dirinya sendiri. Sinema menjadi cara untuk menjaga agar suara yang ingin dibungkam tetap terdengar.</td></tr><tr><td><strong>Merawat ingatan sebagai kerja politik</strong></td><td>Ingatan tidak dipahami sebagai nostalgia pasif. Ia menjadi cara untuk mempertahankan hubungan dengan tanah, keluarga, sejarah, dan masa depan yang terus berusaha dihapus. Film membantu menjaga ingatan itu tetap hidup dan dapat dibagikan.</td></tr><tr><td><strong>Membuka solidaritas dari bawah</strong></td><td>Solidaritas tidak hanya hadir melalui pernyataan politik besar. Ia juga tumbuh dari ruang kecil: pemutaran film, diskusi, zine, refleksi tubuh, percakapan setelah menonton, dan kerja kolektif lintas komunitas.</td></tr><tr><td><strong>Membuat Palestina menjadi percakapan gerakan yang interseksional</strong></td><td>Palestina tidak hanya dibaca sebagai isu wilayah atau konflik politik. Ia terhubung dengan anti-kolonialisme, anti-rasisme, pengungsian, hak atas tanah, keadilan iklim, feminisme, disabilitas, arsip, trauma, kebebasan berekspresi, dan hak komunitas untuk hidup serta bercerita.</td></tr><tr><td><strong>Menghubungkan pengalaman lokal dengan anti-kolonialisme global</strong></td><td>Palestina membuka ruang untuk membaca pola kolonialisme, militerisme, pengusiran, kontrol atas tanah, dan kekerasan negara dalam berbagai konteks. Solidaritas menjadi praktik lintas batas, bukan simpati dari jauh.</td></tr><tr><td><strong>Merawat ruang untuk isu yang berat</strong></td><td>Karena film tentang Palestina sering memuat kekerasan, kehilangan, duka, pengungsian, dan trauma, ruang pemutaran perlu dirancang dengan care. Ini dapat dilakukan melalui <em>trigger warning</em>, <em>check-in emosional</em>, ruang jeda, zine space, <em>body mapping</em>, atau refleksi kolektif.</td></tr><tr><td><strong>Mengubah pemutaran film menjadi ruang belajar bersama</strong></td><td>Palestine Cinema Days tidak hanya memutar film. Ia membuka ruang agar penonton dapat mendengar, merasa, bertanya, mencatat, menggambar, berdiskusi, dan menempatkan dirinya dalam percakapan tentang keadilan, ingatan, pembebasan, dan hak untuk hidup.</td></tr></tbody></table>

***

### Palestine Cinema Days 2024

#### Melalui Lensa Palestina: Sinema, Memori, dan Perlawanan

**Palestine Cinema Days 2024** merupakan bagian dari rangkaian **Palestine Cinema Days Around the World**, sebuah gerakan pemutaran global yang menggunakan sinema sebagai ruang solidaritas untuk Palestina.

Di Indonesia, keterlibatan **ProyekDekolonial** berangkat dari jejaring dengan **In-Docs**, yang memperkenalkan rangkaian ini dan membantu proses pemutaran kolektif pertama pada 2024.

Pada 2024, ProyekDekolonial menjadi salah satu tuan rumah pemutaran di Indonesia. Kegiatan utama diselenggarakan pada **2 November 2024** di **Keris Kafe, Depok**, dengan format pemutaran film, **collective reflection circle**, **zine-art making**, dan ruang refleksi bersama.

Selain Depok, semangat pemutaran dan solidaritas juga diperluas melalui jejaring di **Garut** dan **Tangerang Selatan**.

Dalam arsip Sinema Komunitas, PCD 2024 dicatat sebagai upaya awal ProyekDekolonial untuk menghubungkan pemutaran film dengan solidaritas anti-kolonial.

Film menjadi pintu masuk untuk membaca Palestina bukan hanya sebagai berita perang atau isu geopolitik, tetapi sebagai pengalaman hidup: rumah yang dihancurkan, tanah yang dirampas, keluarga yang tercerai, tubuh yang dikepung, ingatan yang dipertahankan, dan hak untuk kembali.

Untuk pemutaran di Indonesia, ProyekDekolonial bekerja secara kolektif dengan **In-Docs**. Kurasi film dilakukan bersama **Sinema Masa Baru** dan **In-Docs**.

Kerja kampanye digital, advokasi, dan perluasan jejaring turut melibatkan **Against Dehumanization** di Tangerang Selatan, **G.M.P**, **Polimedia Film Festival**, **RuangRiung Baceprot** di Garut, dan **Kolektif Semai**.

**Film yang Diputar**

Program 2024 menampilkan tiga film:

**Little Palestine, Diary of a Siege**\
Abdallah Al-Khatib, Lebanon/Prancis, 2021, dokumenter, 89 menit

**Aida Returns**\
Carol Mansour, Lebanon/Palestina/Kanada, 2023, dokumenter, 72 menit

**Maloul Celebrates Its Destruction**\
Michel Khleifi, Palestina/Belgia, 1984, dokumenter, 31 menit

Ketiga film ini menghadirkan pengalaman Palestina dari tiga lapisan yang saling terhubung: kehidupan di kamp pengungsi yang dikepung, ingatan keluarga yang terus mencari jalan pulang, dan desa yang dihancurkan tetapi tetap dirawat melalui ritual ingatan.

Film-film ini menjadi pintu masuk untuk membaca pengepungan, pengungsian, kehilangan, trauma sejarah, ketahanan, dan hak untuk kembali.

**Lensa Pembacaan Bersama**

Lensa pembacaan PCD 2024 dikembangkan dalam zine **Melalui Lensa Palestina: Sinema, Memori, dan Perlawanan**.

Zine ini disusun sebagai pengantar, dokumentasi arsip, panduan metode kerja, dan eksplorasi isu dalam kerangka dekolonisasi serta praxis anti-kolonial. Di dalamnya, PCD 2024 ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem **ALT+Workshop**, **Ghostly Matters of Heart**, dan **Sinema Komunitas**.

Lensa ini berpusat pada ingatan, pengungsian, pengepungan, kehilangan rumah, dan hak untuk kembali.

Tiga film yang diputar memperlihatkan bagaimana kekerasan kolonial tidak hanya menyerang tanah dan tubuh, tetapi juga keluarga, arsip, memori, identitas, dan hak sebuah komunitas untuk menceritakan dirinya sendiri.

<figure><img src="https://4127998908-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FpzhtgWKr0v92ZM8lPD0D%2Fuploads%2Fu2oeZ5wTeHMhKUDtvUK8%2FScreenshot%202026-05-18%20093537.png?alt=media&amp;token=cbb30f82-a0e6-420b-8453-01e7d6e8190e" alt="" width="307"><figcaption></figcaption></figure>

Dalam zine, tiga film ini dibaca melalui tiga konsep dasar Palestina: **Sutra** atau penghidupan dan kelangsungan hidup, **A’wna** atau solidaritas, dan **Sumud** atau keteguhan.

**Little Palestine, Diary of a Siege** dibaca melalui **Sutra**, ketika tindakan bertahan hidup di tengah pengepungan menjadi pernyataan atas kemanusiaan dan hak untuk ada.

**Aida Returns** dibaca melalui **A’wna**, ketika kepulangan personal menjadi tindakan kolektif yang ditopang keluarga, komunitas, dan ingatan tentang tanah.

**Maloul Celebrates Its Destruction** dibaca melalui **Sumud**, ketika kunjungan tahunan ke reruntuhan desa menjadi cara menjaga kesinambungan, ingatan, dan perlawanan lintas generasi.

> Melalui film-film ini, ingatan bekerja sebagai bentuk perlawanan. Zine menyebut film-film tersebut sebagai arsip perlawanan yang hidup: bukan sekadar dokumentasi, tetapi cara menciptakan arsip kehidupan Palestina yang menolak untuk dihapus.

**Metode dan Ruang Reflektif**

Kegiatan disusun sebagai ruang pemutaran dan pembelajaran kolektif. Formatnya mencakup pemutaran film, **collective reflection circle**, **zine-art making**, **self-reflection wall**, **collective mood check-in**, dan **body mapping response**.

Karena film-film yang diputar memuat tema perang, pengepungan, kelaparan, pengungsian, kehilangan, trauma sejarah, duka keluarga, dan kerinduan pada tanah air, ruang ini dirancang dengan praktik care.

Peserta diberi ruang untuk berhenti sejenak, berpindah ke zine space, menulis, menggambar, memetakan emosi, atau mengikuti refleksi kolektif sesuai kapasitas masing-masing.

Dalam praktik **Sinema Komunitas**, care tidak hanya berarti memberi peringatan sebelum film diputar. Care juga berarti menyediakan ruang bagi tubuh dan emosi untuk mengolah pengalaman menonton secara lebih aman, sadar, dan kolektif.

{% columns %}
{% column width="75%" %}
{% embed url="<https://www.instagram.com/p/DB0YcSAprDf/?img_index=1>" %}
{% endcolumn %}

{% column width="25%" %}

{% endcolumn %}
{% endcolumns %}

**Zine dan Arsip Pembelajaran**

Arsip ini membantu menunjukkan bahwa pemutaran film Palestina dapat menjadi ruang belajar anti-kolonial.

Film tidak hanya hadir di layar, tetapi bergerak menjadi percakapan, zine, refleksi tubuh, ingatan bersama, dan solidaritas yang dapat diperluas dari satu kota ke kota lain.

<sub><mark style="background-color:pink;">Unduh zine dan arsip pembelajaran PCD 2024 di sini:<mark style="background-color:pink;"></sub> [<sub><mark style="background-color:pink;">**Melalui Lensa Palestina: Sinema, Memori, dan Perlawanan**<mark style="background-color:pink;"></sub>](https://drive.google.com/file/d/1_4EEcl2xAcUSC5Txfm5jOK3yDZvSgHbE/view?usp=sharing)

***

### Palestine Cinema Days 2025: #GerakBareng

> Karena pada dasarnya, **inisiatif ini adalah solidaritas untuk Palestina** — bukan sekadar rangkaian acara.

**Palestine Cinema Days 2025** merupakan kelanjutan dari keterlibatan **ProyekDekolonial** dalam **Palestine Cinema Days Around the World**.

Jika pada 2024 praktik ini bergerak di tiga kota yaitu **Depok, Garut, dan Tangerang Selatan**, maka pada 2025 jejaring ini meluas ke lebih banyak titik: **Jakarta, Garut, Medan, Solo, Padang, Yogyakarta, Bogor, Surabaya, dan Aceh**.

Dalam arsip **Sinema Komunitas**, PCD 2025 dicatat sebagai praxis **#GerakBareng**: upaya memperluas akses terhadap sinema Palestina agar tidak hanya beredar di ruang festival, kampus, komunitas film, atau jaringan seni yang sudah mapan.

Sinema Palestina dibuka sebagai ruang bersama yang dapat diputar, dibicarakan, dan disolidaritaskan oleh komunitas kecil, kolektif, organisasi, ruang belajar, ruang warga, kelompok akar rumput, hingga NGO lintas isu.

**#GerakBareng** lahir dari kesadaran bahwa solidaritas untuk Palestina tidak perlu menunggu program besar, lembaga formal, atau sumber daya yang lengkap.

Ia dapat dimulai dari apa yang tersedia: ruang kecil, jaringan pertemanan, komunitas lokal, kelompok belajar, kolektif seni, organisasi masyarakat sipil, kampus, perpustakaan, atau ruang warga yang ingin ikut merawat percakapan tentang Palestina.

Melalui #GerakBareng, PCD 2025 menjadi latihan membangun infrastruktur solidaritas dari bawah.

Film menjadi pintu masuk, tetapi kerja yang lebih luas adalah membuka akses, saling berbagi metode, menghubungkan jejaring, memperkuat kapasitas komunitas, dan memastikan isu Palestina dapat dibicarakan secara lebih luas, interseksional, dan tidak eksklusif.

> Gerakan ini bukan ekshibisi festival film atau bagian dari skena seni elite, melainkan upaya memperluas akses terhadap sinema Palestina agar dapat diputar dan dibicarakan oleh siapa pun, di mana pun.

Berangkat dari semangat solidaritas, #GerakBareng mendorong setiap jejaring untuk saling berkomunikasi, saling belajar, dan saling berbagi ruang.

Yang diutamakan adalah proses belajar bersama: memperkuat jejaring, memperluas ruang aman, dan memastikan sinema Palestina bisa hadir di sebanyak mungkin ruang, tanpa sekat, tanpa hierarki, dan tanpa praktik pembatasan akses atau **gatekeeping**.

**Dari Tiga Kota ke Banyak Simpul**

Pada 2024, ProyekDekolonial mulai menguji pemutaran kolektif PCD melalui tiga kota: **Depok, Garut, dan Tangerang Selatan**.

Praktik ini menjadi pengalaman awal untuk melihat bagaimana pemutaran film Palestina dapat bergerak melampaui satu ruang utama, lalu tumbuh melalui jejaring yang berbeda-beda.

Pada 2025, gerak ini diperluas. Jejaring yang terlibat semakin beragam dan tersebar di **Jakarta, Garut, Medan, Solo, Padang, Yogyakarta, Bogor, Surabaya, dan Aceh**.

Perluasan ini penting karena menunjukkan bahwa solidaritas tidak harus terpusat. Ia dapat tumbuh dari banyak simpul, masing-masing dengan konteks, kapasitas, dan cara kerjanya sendiri.

Setiap kota bukan cabang dari satu pusat, tetapi simpul yang ikut menghidupkan ruang solidaritas. Ada yang bergerak melalui komunitas film, kolektif seni, organisasi masyarakat sipil, kelompok belajar, kampus, ruang warga, atau jaringan lokal yang sudah lama bekerja di isu sosial lain.

> Tujuannya bukan hanya untuk menonton film, tetapi membangun ruang refleksi, solidaritas, dan keberanian untuk membicarakan Palestina dari perspektif keadilan, kemanusiaan, dan dekolonisasi.

{% embed url="<https://www.instagram.com/p/DQXaU2qk6Kv/?img_index=9>" %}

**Solidaritas yang Interseksional**

PCD 2025 juga memperluas Palestina sebagai percakapan gerakan yang interseksional.

Palestina tidak dibaca hanya sebagai isu wilayah atau konflik politik, tetapi sebagai simpul yang terhubung dengan banyak medan perjuangan: anti-kolonialisme, anti-rasisme, pengungsian, hak atas tanah, keadilan iklim, feminisme, disabilitas, kesehatan, arsip, trauma, kebebasan berekspresi, dan hak komunitas untuk hidup serta menceritakan dirinya sendiri.

Karena itu, #GerakBareng membuka ruang bagi banyak jenis aktor untuk terlibat: komunitas kecil, kolektif lokal, kelompok belajar, organisasi akar rumput, NGO, kampus, perpustakaan, ruang warga, dan jaringan lintas isu.

Keberagaman ini menjadi kekuatan, karena solidaritas untuk Palestina tidak membutuhkan satu jenis suara atau satu bentuk aksi saja.

Ada yang membuat pemutaran film. Ada yang membuka diskusi. Ada yang membuat zine. Ada yang mengarsipkan. Ada yang menghubungkan jaringan. Ada yang menyediakan ruang. Ada yang membantu komunikasi. Semua bentuk kerja ini menjadi bagian dari infrastruktur solidaritas.

**Daftar Pilihan Film**&#x20;

Setiap kolektif, komunitas, dan organisasi dalam jejaring **ProyekDekolonial** akan menayangkan film yang berbeda, disesuaikan dengan konteks ruang, kapasitas, serta arah diskusi dan refleksi kolektif masing-masing.

Informasi jadwal dan film yang diputar dapat diikuti melalui kanal media sosial masing-masing penyelenggara..

<table data-view="cards"><thead><tr><th></th><th></th><th></th><th data-type="content-ref"></th><th data-hidden data-card-cover data-type="image">Cover image</th></tr></thead><tbody><tr><td>Jenin, Jenin</td><td>Mohammad Bakri</td><td>Documentary, 54 min</td><td><a href="https://mubi.com/es/films/jenin-jenin/trailer">https://mubi.com/es/films/jenin-jenin/trailer</a></td><td><a href="https://4127998908-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FpzhtgWKr0v92ZM8lPD0D%2Fuploads%2FBKc0Inr8xQLzQaj0wLTQ%2Fjenin.png?alt=media&amp;token=56666719-dadb-4083-b5e5-b82b4a20ae42">jenin.png</a></td></tr><tr><td>UPSHOT</td><td>Maha Haj</td><td>Drama, 34 min</td><td><a href="https://mubi.com/en/films/upshot/trailer">https://mubi.com/en/films/upshot/trailer</a></td><td><a href="https://4127998908-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FpzhtgWKr0v92ZM8lPD0D%2Fuploads%2FE3E6Oy77maEY67Xkkxgs%2Fupshot.png?alt=media&amp;token=6b345c3d-5f91-45db-b7ff-678bb087b982">upshot.png</a></td></tr><tr><td>When I Saw You</td><td>Annemarie Jacir</td><td>Drama, 98 min</td><td><a href="https://mubi.com/en/films/when-i-saw-you/trailer">https://mubi.com/en/films/when-i-saw-you/trailer</a></td><td><a href="https://4127998908-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FpzhtgWKr0v92ZM8lPD0D%2Fuploads%2FEWpq1EuR9rDrNkiCAZwe%2Fsaw%20you.png?alt=media&amp;token=0a940ef1-5ece-4009-a26f-4ad8a330ea6f">saw you.png</a></td></tr><tr><td>The Dupes</td><td>Tewfik Saleh</td><td>Drama, 107 min</td><td><a href="https://mubi.com/en/films/the-dupes/trailer">https://mubi.com/en/films/the-dupes/trailer</a></td><td><a href="https://4127998908-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FpzhtgWKr0v92ZM8lPD0D%2Fuploads%2FyHFjlFLn0CHV4Eh4U0T7%2FDupes.png?alt=media&amp;token=d3215a8d-37b4-4e6b-a0b3-600e18ddb890">Dupes.png</a></td></tr><tr><td>A State of Passion</td><td>Carol Mansour &#x26; Muna Khalidi</td><td>Documentary, 90 min</td><td><a href="https://www.youtube.com/watch?v=NK9FI0F4DxQ">https://www.youtube.com/watch?v=NK9FI0F4DxQ</a></td><td><a href="https://4127998908-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FpzhtgWKr0v92ZM8lPD0D%2Fuploads%2FZS9OIVCzol2mwtlamTYS%2FA%20State%20of%20Passion_Still_GAS%20Baptist%20Hosp%20Strike.png?alt=media&amp;token=92d9e921-27dc-4f8a-bcc8-64596490260e">A State of Passion_Still_GAS Baptist Hosp Strike.png</a></td></tr><tr><td></td><td></td><td></td><td></td><td></td></tr></tbody></table>

#### Koordinasi & Dokumentasi Kolektif

Dalam kerja kolektif ini, koordinasi dan dokumentasi dilakukan melalui **Google Docs** dan **Trello workspace** bersama. Ruang ini memungkinkan setiap komunitas untuk mengikuti pembaruan, mengakses materi, dan menyelaraskan kegiatan secara kolaboratif.

Lebih dari sekadar alat koordinasi, ruang kerja bersama ini juga menjadi bagian dari praktik belajar kolektif tentang cara mengorganisasi, merawat gerakan, dan membangun solidaritas lintas ruang.

> Melalui proses ini, jejaring belajar untuk saling membuka akses, saling mendukung, dan saling menjaga. Cara kerja ini membantu menghindari kerja yang terpisah-pisah atau silo, serta menumbuhkan kebiasaan berbagi pengetahuan dan sumber daya secara lebih setara.

{% embed url="<https://trello.com/b/hvqT8qQL/arsip-kerja-kolektif-pcd-2025>" fullWidth="false" %}

**Zine dan Arsip Pembelajaran**

Untuk PCD 2025 di **Kedai JATAM**, ProyekDekolonial menyusun zine digital berjudul **Cartographies of Sumud**.

Zine ini menjadi arsip pembelajaran, pengantar konteks, dan alat bantu refleksi untuk mendampingi pemutaran film.

Di dalamnya, Palestine Cinema Days dijelaskan sebagai jaringan pemutaran film solidaritas lintas negara yang lahir dari respons terhadap genosida di Gaza. Zine ini juga diposisikan sebagai tindakan solidaritas dan pengingatan historis pada tanggal **2 November**, peringatan **Deklarasi Balfour**.

Judul **Cartographies of Sumud** dipilih untuk menggambarkan peta kolektif pengalaman rakyat Palestina.

**Cartographies** tidak hanya merujuk pada peta geografis, tetapi juga pada pemetaan ingatan, trauma, ketahanan, dan pengalaman sehari-hari.

Sementara **sumud** dipahami sebagai keteguhan rakyat Palestina untuk tetap ada, menjaga identitas, bahasa, tradisi, ingatan kolektif, serta membangun komunitas di tengah pendudukan dan tekanan.

<figure><img src="https://4127998908-files.gitbook.io/~/files/v0/b/gitbook-x-prod.appspot.com/o/spaces%2FpzhtgWKr0v92ZM8lPD0D%2Fuploads%2F1BV3lybulrBXeWcsKXrR%2FScreenshot%202026-05-18%20124139.png?alt=media&amp;token=dcd46b8a-5866-4eb6-8a19-2f20311d1e46" alt="" width="278"><figcaption></figcaption></figure>

Zine ini mendampingi pemutaran tiga film di Kedai JATAM: **When I Saw You** karya Annemarie Jacir, **Jenin, Jenin** karya Mohammad Bakri, dan **UPSHOT** karya Maha Haj.

Ketiganya dibaca sebagai koordinat dalam *cartographies of sumud*: dari harapan anak pengungsi, kesaksian warga yang berusaha dibungkam, hingga keheningan setelah kehilangan.

Selain konteks film, zine ini juga memuat **pengantar dari Filmlab Palestine**, konteks tentang **Refaat Alareer**, *trigger warning* untuk setiap film, rekomendasi film Palestina untuk anak dan keluarga, serta prinsip **Safe & Brave Space Sinema**.

Prinsip ini menekankan bahwa pemutaran film bukan hanya ruang tontonan, tetapi ruang aman untuk mendengar dan ruang berani untuk membicarakan pengalaman yang sulit. Praktiknya dapat berupa *trigger warning*, ruang jeda, refleksi terbuka, bahasa yang inklusif, keterlibatan anak dan keluarga, serta dokumentasi yang merawat ruang.

Dalam konteks **#GerakBareng**, zine ini juga mencatat perluasan PCD 2025 di Indonesia sebagai gerak kolektif lintas kota.

Materi arsip menyebut bahwa PCD 2025 Indonesia berlangsung pada **1–4 November 2025** dan bergerak di berbagai kota, termasuk **Jakarta, Bandung, Garut, Medan, Semarang, Padang, Yogyakarta, Surabaya, Bogor, Pekanbaru, Lasem, dan Surakarta**.

Dengan demikian, zine **Cartographies of Sumud** tidak hanya menjadi materi pendamping pemutaran di Kedai JATAM. Ia menjadi arsip praxis: mencatat bagaimana sinema Palestina digunakan untuk memperluas akses, merawat ruang belajar, membuka percakapan lintas usia, dan menghubungkan solidaritas Palestina dengan kerja kolektif lintas komunitas, organisasi, dan kota.

<sub><mark style="background-color:pink;">Unduh zine di sini:<mark style="background-color:pink;"></sub> [<sub><mark style="background-color:pink;">**Cartographies of Sumud — Palestine Cinema Days Around the World 2025, Kedai JATAM**<mark style="background-color:pink;"></sub>](https://drive.google.com/file/d/1Rbi9rlTlq5Yy1Km43HjNT8xJCf3F1gtc/view?usp=sharing)

**Glosarium Singkat**

{% columns %}
{% column %}
**Solidaritas anti-kolonial**\
Solidaritas yang melihat perjuangan Palestina sebagai bagian dari perlawanan terhadap kolonialisme, perampasan tanah, penghapusan, rasisme, militerisme, dan kekerasan negara.

**Kolonialisme pemukim**\
Bentuk kolonialisme yang tidak hanya menguasai wilayah, tetapi juga berusaha mengganti, mengusir, atau menghapus keberadaan penduduk asli dari tanahnya sendiri.

**Penghapusan kolonial**\
Upaya menghapus keberadaan sebuah komunitas melalui kekerasan, pengusiran, penghilangan nama tempat, penghancuran arsip, pembungkaman cerita, atau penghapusan hak untuk mengingat dan bercerita.

**Hak untuk kembali**\
Hak pengungsi dan keturunannya untuk kembali ke tanah, rumah, atau wilayah asal yang darinya mereka terusir atau dipaksa pergi.

**Praxis dekolonial**\
Upaya menguji gagasan dekolonisasi dalam praktik nyata: cara belajar, cara mengarsipkan, cara membagi akses, cara mengorganisasi ruang, dan cara membangun solidaritas.

***Sumud***\
Keteguhan rakyat Palestina untuk tetap ada, bertahan, menjaga identitas, merawat ingatan, dan membangun kehidupan di tengah pendudukan, kekerasan, dan penghapusan.

***Sutra***\
Dalam zine PCD 2024, Sutra dibaca sebagai penghidupan dan kelangsungan hidup: cara bertahan, merawat kehidupan, dan menegaskan hak untuk tetap ada di tengah pengepungan.

***A’wna***\
Dalam zine PCD 2024, A’wna dibaca sebagai solidaritas: hubungan saling menopang yang menjaga ingatan, kepulangan, keluarga, dan komunitas.
{% endcolumn %}

{% column %}
***Countermemory*****&#x20;/ ingatan tandingan**\
Ingatan, cerita, atau arsip dari komunitas yang menantang narasi dominan negara, militer, media arus utama, atau kekuasaan.

**Arsip perlawanan yang hidup**\
Arsip yang tidak hanya menyimpan masa lalu, tetapi juga menjaga ingatan, membuka percakapan, dan mendukung perjuangan komunitas untuk hidup, kembali, dan bercerita.

**Interseksional**\
Cara melihat isu yang saling terhubung. Dalam konteks ini, Palestina tidak hanya dibaca sebagai isu politik, tetapi juga terkait dengan anti-rasisme, pengungsian, hak atas tanah, iklim, feminisme, disabilitas, arsip, trauma, dan kebebasan berekspresi.

***Gatekeeping***\
Praktik menjaga akses agar hanya kelompok tertentu yang boleh terlibat, mengetahui, memutar, membicarakan, atau mengorganisasi sesuatu.

**Infrastruktur solidaritas dari bawah**\
Jaringan, ruang, metode, zine, dokumentasi, relasi, dan kerja kolektif yang dibangun oleh komunitas untuk saling mendukung tanpa harus menunggu lembaga besar atau program formal.

**Silo**\
Cara kerja yang terpisah-pisah sehingga kelompok, komunitas, atau organisasi tidak saling berbagi informasi, sumber daya, atau pembelajaran.

***Safe & Brave Space*****&#x20;Sinema**\
Kerangka untuk menjadikan pemutaran film sebagai ruang yang cukup aman untuk mendengar dan cukup berani untuk membicarakan pengalaman sulit, dengan tetap menjaga batas, bahasa, dan keselamatan emosional peserta.
{% endcolumn %}
{% endcolumns %}

**Catatan Penutup**

Palestine Cinema Days menunjukkan bagaimana sinema komunitas dapat menjadi ruang solidaritas anti-kolonial.

Melalui film, zine, diskusi, refleksi tubuh, arsip, dan kerja kolektif lintas kota, Palestina tidak dibaca sebagai isu yang jauh. Palestina hadir sebagai pengalaman hidup tentang rumah, tanah, kehilangan, pengungsian, ingatan, keteguhan, dan hak untuk kembali.

Dalam ekosistem ProyekDekolonial, Palestine Cinema Days juga menjadi latihan untuk membangun solidaritas dari bawah: membuka akses, berbagi metode, merawat ruang, menghubungkan komunitas, dan menolak penghapusan melalui ingatan yang terus dijaga bersama.
